salam

Pages

Rabu, 17 April 2013

LAPORAN stuktur perkembangan hewan (SPH) sperma



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sel kelamin atau gamet merupakan komponen sistem reproduksi yang penting, karena dari persatuan antara sel kelamin  jantan dan betina terbentuklah zigot yang akan berkembang menjadi individu baru. Pengenalan dan pemahaman mengenai cirri morfologi sel kelamin hewan vertebrata pada lokasi yang berbeda-beda dari sistem reproduksi merupakan dasar untuk penelitian reproduksi dan embriologi yang berkaitan dengan sel kelamin.
Dalam praktikum ini akan diamati struktur morfologi dan motilitas spermatozoid, dan struktur morfologi sel telur beberapa hewan vertebrata dari beberapa system reproduksinya.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam praktikum kali ini yaitu:
  1. Bagaimana struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan vertebrata?
  2. Bagaimana perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian sistem reproduksi yang berbeda?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dalam praktikum kali ini yaitu:
  1. Untuk mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan vertebrata.
  2.  Untuk mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian sistem reproduksi yang berbeda.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Pengertian Sel Kelamin (Gamet)
Sel kelamin (gamet) merupakan hasil proses gametogenesis. Gamet jantan disebut spermatozoid, dan gamet betina disebut sel telur. Spermatozoa diproduksi didalam tubulus seminiferus testis. Spermatozoid vertebrata terdiri atas bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor yang berupa flagel panjang. Sperma hewan-hewan yang berbeda, berbeda pula dalam ukuran, bentuk dan mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah spesifik spesies, perbedaannya terutama terlatak pada bentuk kepalanya, yaitu dari bulat pipih sampai panjang lancip (Yatim, 1996).
Pada hewan-hewan yang tidak memiliki epididimis, testis menjadi tempat perkembangan serta maturasi sperma. Jadi pada hewan-hewan tersebut sperma yang dikeluarkan dari testis merupakan sperma yang matang, mempunyai motilitas dan mempunyai kemampuan untuk membuahi sel telur. Pada hewan-hewan yang memiliki epididimis, sperma yang berada didalam tubulus seminiferus atau yang dikeluarkan dari testis belum motil; mobilitasnya   baru diperoleh setelah mengalami aktivasi atau pematangan fisiologia didalam epididimis. Spermatozoa dapat disimpan dalam epididimis dan vas deferens selama beberapa hari sampai beberapa bulan (Soeminto, 1993).
Sel telur diproduksi didalam ovarium. Perkembangan sel telur terjadi didalam folikel-folikel telur. Folikel telur yang matang akan mengalami ovulasi, sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk kedalam oviduk. Seperti sel yang lain, sel telur dilengkapi dengan membran sel yang disebut plasmalema atau oolema. Untuk melindungi sitoplasma, inti, yolk, dan organel-organel dalam sel. Disamping oolema, kebanyakan sel telur dikelilingi oleh membrane-membran telur. Membran telur  yang disekresi oleh sel telur sendiri, disebut membran telur primer. Membran vitelin  yang mengelilingi oolema termasuk membran telur primer. Membran telur yang disekresi oleh sel-sel folikel disebut membran telur sekunder, misalnya zona pelusida yang terletak disebelah luar membran vitelin. Membran telur yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar oviduk dan uterus disebut membran sel tersier, misalnya: membran cangkang dan cangkang kapur pada telur reptile dan aves (Yatim, 1996).
Berdasarkan jumlah dan penyebaran yolknya, tipe sel telur vertebrata dibedakan menjadi: isolesital (yolk sedikit dan tersebar merata, misalnya telur mamalia), telolesital (yolk banyak dan tersebar tidak merata, terutama tertimbun di kutub vegetal, misalnya telur amphibia ), megalesital (= telolesial ekstrem, yolk sangat banyak, tersebar merata, misalnya telur aves ) (Sistina, 2000).

            Macam-macam Spermatozoa
2.2.1 Macam-macam spermatozoa menurut struktur:
Ada 2 kelompok I. Tak berflagellum
                          II. Berflagellum
Yang tak berflagellum terdapat pada beberapa jenis Evertebrata, yakni Nematoda, Crustacea, Diplopoda. Yang berflagellumlah yang umum terdapat pada hewan. Flagellum itu ada yang satu (umum), ada yang dua (jarang) (Prasetyo, 2008).
            Yang berflagellum lazim memiliki bagian-bagian: kepala dan ekor. Kepala sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke dalam ovum, dan membawa bahan genetis yang akan diwariskan kepada anak cucu. Ekor untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menerobos selaput ovum. Dalam kepala ada inti dan akrosom. Inti mengandung bahan genetis, akrosom mengandung berbagai enzim lysis. Akrosom ialah lisosom spermatozoon, untuk melysis lendir penghalang saluran kelamin betina dan selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi oleh alat golgi (Toelihere, 1981).
            Ekor berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar, disebut axonema, dibina atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor mengandung sentriol (sepasang), mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007).

2.2.2 Macam spermatozoa menurut kromosom kelamin
Sesuai dengan adanya 2 macam kromosom kelamin pada hewan yang bersistem XY (umum pada Vertebrata), maka dalam spermatozoa jadi haplon pada proses meiosis, terbentuklah spermatid yang di sepihak hanya mengandung salah satu kedua macam kromosom itu: X atau Y. Terbentuklah sperma yang hanya mengandung kromosom kelamin X, disingkat sperma-X; lalu ada sperma yang hanya mengandung kromosom kelamin Y, disingkat sperma-Y (Yatim, 1996).
Banyak dihasilkan
Spermatozoa dihasilkan terus-menerus tiap hari. Tapi bagi hewan yang memiliki musim kawin penghasilan itu lebih kentara giat jika tiba musim itu. Ada pula penghasilan berlangsung terus sebelum musim kawin, lalu dicadangkan. Jika tiba musim kawin dikeluarkan sekaligus semua, sesuai dengan betina yang waktu itu mengeluarkan pula semua telurnya sekaligus (Soeminto, 1993)
Gerakan
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit (Yatim, 1996).
Sifat gerakan spermatozoa menentukan juga kemandulan seseorang pria. Kalau gerakan terlalu lambat, lamban atau gerakan itu tak menentu arahnya, maka pembuahan sulit berlangsun. Ada batas waktu menunggu bagi ovum untuk dapat dibuahi. Kalau terlambat spermatozoa datang tak susur lagi (Campbell, 2004).
Ketahanan di luar tubuh
Spermatozoa mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah. Kekurangan vitamin E menyebabkan ia tak bertenaga melakukan pembuahan. Terlalu rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan membuahi. Pada mammalia scrotum memilikisuhu lebih rendah dari suhu tubuh. Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan pula, karena mematikan spermatozoa yang masuk (Adnan, 2006).    

2.3 Bagian-bagian Spermatozoa
2.3.1 Kepala Spermatozoa
            Satu spermatozoa terdiri atas kepala dan ekor. Kepala lonjong dilihat dari atas dan pyriform dilihat dari samping, lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung. Panjang kepala 4-5 um, dan lebar 2,5-3,5 um. Sebagian terbesar kepala berisi inti, yang kromatinnya sangat terkondensasi untuk menghemat ruangan yang kecil, dan untuk melindungi diri dari kerusakan ketika spermatozoon mencari ovum. Dua pertiga bagian depan inti diselaputi tutup akrosom berisi enzim untuk menembus dan memasuki ovum (Yatim, 1994).
              Kepala sperma terisi sepenuhnya dengan materi inti, chromosom, terdiri dari DNA yang bersenyawa dengaan protein. Informasi genetic yang dibawa oleh spermatozoa di simpan dalam molekul DNA yang tersusun oleh banyak nukleoitida. Pada mamalia sifat-sifat herediter di dalam inti sperma termasuk penentuan kelamin embrio (Toelihere, 1981).

2.3.2 Ekor Spermatozoa
              Menurut Yatim (1994), ekor sperma dibagi atas :
1. Leher, bagian penghubung ekor dengan kepala. Tempat melekat ekor ke kepala disebut implantation fossa, dan bagian ekor yang menonjol disebut capitulum, semacam sendi peluru pada kepala. Dekat capitulum terletak sentriol depan (proximal), sentriol ujung (distal) hanya berupa sisa pada spermatozoa matang.
2. Bagian tengah, memiliki teras yang disebut axonem, terdiri dari 9 duplet mikrotubul radial dan 2 singlet mikrotubul sentral. Susunan axonem sama dari pangkal ke ujung ekor. Pada bagian ujung selubung mitokondria ada annulus (cincin), tempat melekat membran flagellum, dan juga sebagai batas dengan bagian utama.
3. Bagian utama, depan panjang 45 um, tebal 0,5 um, yang secara berangsur kian gepeng ke ujung. Sebelah luar ada seludang fibrosa, terdiri dari batang longitudinal atas-bawah, diselaputi rusuk-rusuk fibrosa setengah lingkaran.
4. Bagian ujung, panjang 5-7 um, tidak mengandung selaput fibrosa yang berusuk-rusuk, sehingga ia berstruktur sama dengan flagellum atau cilium. Di daerah ini axonem berubah komposisinya jadi singlet.
Gambar : struktur sperma (Adnan, 2006)

            Panjang ekor sperma sekitar 40-50 mikron dan berasal dari sentriol spermatid selama spermiogenesis. Ujung anterior bagian tengah yang berhubungan dengan kepala dikenal sebagai daerah implantasi. Pemisahan kepala dari ekor dapat terjadi di daerah ini. Ia memberi gerak maju pada spermatozoa dengan gelombang-gelombang yang dimulai di daerah implantasi ekor-kepala dan berjalan kearah distal sepanjang ekor (Toelihere, 1981).
2.4 Spermatozoa Abnormal
            Abnormalitas sperma dapat terjadi pada kepala dan ekor. Abnormalitas sperma diklasifikasikan dalam abnormalitas primer dan sekunder. Abnormalitas primer terjadi karena kelainan-kelainan spermatogenesis di dalam tubuli seminiferi atau epithel kecambah, sedangkan abnormalitas sekunder terjadi sesudah sperma meninggalkan tubuli seminiferi, selama perjalanannya melalui saluran epididymis, selama ejakulasi atau dalam manipulasi ejakulat termasuk agitasi yang keras, pemanasan berlebihan, pendinginan yang cepat, kontaminasi dengan air, urine atau antiseptic dan sebagainya (Toelihere, 1981).
            Dalam keadaan normal atau patologis ada spermatozoa yang berbentuk abnormal. Keabnormalan bentuk itu kebanyakan pada kepala, mungkin pula pada ekor. Keabnormalan pada kepala seperti: kepala besar, kepala kecil, kepala kembar, kepala tumpul. Keabnormalan pada ekor seperti: bagian tengah besar, pada bagian tengah melekat sitoplasma sisa berupa kantung kecil atau gembungan di kedua sisi, ekor melilit, ekor ganda, ekor pendek (Yatim, 1996).
            Bentuk sperma ada yang normal ada pula yang tidak normal. Dibawah ini adalah bentuk sperma yang abnormal menurut Wongso (2007):

1. Makro : 25 % > kepala normal
2. Mikro : 25 % <>
3. Taper : kurus, lebar kepala ½ yang normal, tidak jelas batas akrosom
4. Amorf : Bentuk kepala yang ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom
5. Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom
6.Piri : tidak jelas adanya kepala yang nyata, tampak midpiece dan ekor saja
7.Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala atau midpiece, lebih cerah
8. Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda
           Setiap sperma abnormal tidak dapat membuahi ovum, tanpa memandang apakah abnormalitas tersebut terjadi di dalam tubuli seminiferi, dalam epididymis atau oleh perlakuan yang tidak lege artis terhadap ejakulat. Selama abnormalitas sperma belum mencapai 20 prosen dari contoh semen, maka semen tersebut masih dapat dipakai untuk inseminasi (Toelihere, 1981).
2.5 Motilitas Spermatozoa
          Ciri utama spermatozoa adalah motilitas atau daya geraknya yang dijadikan patokan atau cara yang paling sederhana dalam penilaian semen untuk inseminasi buatan. Motilitas sperma memegang peranan penting sewaktu pertemuannya dengan ovum. Ekor sperma mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas, dan ekor yang telah terpisah dari kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Gelombang-gelombang sperma yang berenang dalam arah yang sama merupakan suatu ciri khas semen sapi dan domba yang belum diencerkan  bila dilihat dibawah mikroskop. Kecepatan pergerakan sperma bervariasi sesuai dengan kondisi medium dan suhu (Toelihere, 1981).
          Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika motil maju > 40 %. Ada orang yang spermatozoanya lemah sekali gerak majunya, disebut asthenozoospermia. Jika hamper semua sperma yang diperiksa nampak mati, tak bergerak, disebut necrozoospermia. Berarti orang ini infertile. Tapi ada laporan mutakhir, spermatozoa yang tak bergerak belum menunjukkan mati. Mungkin ada suatu zat sytotoxic atau antibodi yang membuatnya tak bergerak (Yatim, 1994).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1  Waktu dan Tempat
            Praktikum SPH II Topik III sub Bab “Pengamatan Sel Kelamin”  ini dilaksanakan pada hari Kamis 14 Mei 2009, pukul 13.30 WIB, bertempat di Laboratorium Biologi  Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

3.2 Alat dan Bahan
                Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mikroskop, kaca benda, kaca penutup, mikropipet, tabung reaksi, dan bahannya adalah sperma manusia tidak merokok, sperma manusia merokok I, sperma manusia merokok II, dan sperma kambing (hewan).
    
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Sperma Pada Manusia Tidak Merokok
  1. Diambil satu tetes sperma manusia tidak merokok yang sudah disiapkan menggunakan mikropipet.
  2. Diletakkan di atas kaca benda, kemudian di tutup dengan kaca penutup.
  3. Diamati di bawah mikroskop.
  4. Digambar sperma yang terlihat.

3.2.2 Sperma Pada Manusia Merokok I
  1. Diambil satu tetes sperma manusia merokok 1 yang sudah disiapkan menggunakan mikropipet.
  2. Diletakkan di atas kaca benda, kemudian di tutup dengan kaca penutup.
  3. Diamati di bawah mikroskop.
  4. Digambar sperma yang terlihat.




3.2.3 Sperma Pada Manusia Merokok II
  1. Diambil satu tetes sperma manusia merokok II yang sudah disiapkan menggunakan mikropipet.
  2. Diletakkan di atas kaca benda, kemudian di tutup dengan kaca penutup.
  3. Diamati di bawah mikroskop.
  4. Digambar sperma yang terlihat.

3.2.4 Sperma Pada Kambing (Hewan)
  1. Diambil satu tetes sperma kambing yang sudah disiapkan menggunakan mikropipet.
  2. Diletakkan di atas kaca benda, kemudian di tutup dengan kaca penutup.
  3. Diamati di bawah mikroskop.
  4. Digambar sperma yang terlihat.



                                                                                   















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Hasil Pengamatan Sperma Secara  Makroskopik dan Mikroskopik
Sample Sperma
Volume (ml)
pH
Warna
Kualitas
Motilitas
Viabilitas
Abnormalitas
Manusia Perokok (I)
1 ml
7
Putih agak kuning
Agak encer
Agak pasif
Hidup: 10% Mati: 90%
Cauda putus dll.
Manusia Perokok (II)
2,3 ml
7
Putih agak kuning
Lebih kental
Agak pasif
Hidup: 15% Mati: 85%
Berkepala 2 dll.
Manusia Tidak merokok
2,8 ml
7
Putih susu bening
Kental
Agak pasif
Hidup: 25% Mati: 75%
Kepala kecil dll.
Kambing (hewan)
2 ml
6
Putih agak  kekuningan
Sangat kental
Pasif
Hidup: 10% Mati: 90%
Leher besar  dll.








4.1.2 Hasil Pengamatan Karakteristik Perbandingan Sperma Normal dan Abnormal
Sperma Normal
Sperma Normal
Sperma Abnormal
Sperma Abnormal
Gambar Literatur
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur
Gambar Pengamatan


(Anonymous, 2009).



(Anonymous, 2009).


4.1.3 Perbandingan Morfologi Sperma Pada Manusia dan Kambing
Sperma Manusia
Sperma Kambing (hewan)

              
(Anonymous, 2009).


(Anonymous, 2009).
4.2 Pembahasan
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sel kelamin yang membahas mengenai pengamatan makroskopik terdiri atas warna sperma, voloume sperma, Ph, dan kekentalan sperma. Dan pada pengamatan mikroskopik terdiri atas motilitas (pergerakan) massa dan individu, viabilitas (hidup dan mati), abnormalitas, kriteria jalannya sperma: sangat bagus, bagus, kurang bagus, dan jelek. Pengamatan ini terdapat 2 sample yakni sperma manusia dan sperma kambing. Pada sperma manusia terdiri atas 2 sample, yang pertama sperma manusia perokok (perokok I dan II), yang kedua sperma manusia tidak merokok.

4.2.1 Pengamatan Sperma Pada Manusia (perokok I)
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia perokok I memiliki volume 1 ml, berwarna putih agak kekuningan, kekentalannya agak encer dan pHnya 7. Pada sperma perokok I ini banyak yang mati, karena tidak terlihat gerak massanya dan tidak motil (gerak pasif). Terdapat sperma yang gerak lurus (sedikit), ada juga gerak dengan memutar-mutar, dan yang berlekuk-lekuk tapi sangat lambat. Hal ini mungkin pengaruh suhu lingkungan dan perlakuan terhadap pewarnaan.
 Jumlah spermanya banyak yang mati daripada perokok II. Jumlah sperma yang hidup 10 % dan sperma yang mati  90 % dan banyak yang abnormal seperti yang telah diamati yaitu adanya sperma berkepala 2, lehernya agak besar, dan caudanya putus. Hal tersebut telah membuktikan, bahwa kualitas sperma pada manusia (perokok I) jelek (-) karena jumlah kematian sperma (90%), lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (10%). Disamping itu pula, terdapat faktor dari manusia itu sendiri (nitrisi, tingkat merokok).  
  Volume spermatozoa normalnya, sekali keluar sebanyak 2 sampai 6 mililiter (ml). Jadi, dalam satu ejakulat, terkandung minimal 20 juta ekor spermatozoa per mililiter-nya. Kalau minimal 2 ml per ejakulat, berarti dibutuhkan minimal 40 juta ekor sperma agar terjadi pembuahan (Nugroho, 2003).
Spermatozoa tertimbun di dalam pembuluh epididimis. Di dalam epididimis spermatozoa menjadi masak terhadap kemampuannya untuk membuahi ovum. Bila spermatozoa melanjutkan proses kedewasaannya selama dalam perjalanan di dalam epididimis, massa protoplasma yang berupa butiran-butiran cytoplasma, yang biasanya berada di sekitar leher spermatozoa akan bergerak menuju ke bagian ekor dan secara normal akan terlepas sebelum diejakulasikan, pada waktu spermatozoa itu berada di dalam epididimis kepala. Namun demikian dapat terjadi bahwa butiran protoplasma masih tetap tinggal dispermatozoasesudah diejakulasikan dan spermatozoa yang masih mengandung butiran sitoplasma itu dapat dikatakan bahwa spermatozoa yang tidak sempurna proses kedewasaannya (Salisbury, 1985).
Jumlah sperma yang normal disebut normozoospermia, jumlah kurang oligozoospermia. Sementara sperma yang geraknya normal disebut normozoospermia, gerak kurang disebut asthenozoospermia, dan bentuk kurang disebut teratozoospermia (Nugroho, 2003).
Spermatozoa merupakan sel yang senantiasa bergerak. Pergerakannya ini dibutuhkan untuk berbagai keperluan, seperti mendekati kumpulan sel sertoli untuk memperoleh nutrisi, serta bergerak dalam saluran genital betina dalam rangka menuju sel telur saat peristiwa fertilisasi. Sperm motil mempunyai beberapa bagian yaitu kepala dengan akrosom yang mengandung enzim hialuronidase untuk penetrasi ke dalam ovum, bagian tengah berisi mitokondria penghasil energi untuk bergerak dan ekor yang mempunyai flagel serta  komponen utama : rangka pusat dengan mikrotubulus, membrane sel tipis dan sekelompok mitokondria pada bagian proksimal. Gerakan mendekat dan menjauh memberikan mobilitas pada sperma gerakan ini disebabkan gerak meluncur longitudinal dalam tubulus posterior dan anterior (Nugroho, 2003).
  Banyak-sedikitnya volume cairan sperma yang dipancarkan saat ejakulasi dipengaruhi oleh faktor frekuensi ejakulasi. Makin sering ejakulasi dilakukan, makin berkurang volume cairan sperma yang dipancarkan. Merokok dapat mempengaruhi jumlah sperma, secara signifikan menurunkan jumlah sperma dan motilitas sperma. Penelitian menunjukan perokok memiliki jumlah sperma lebih kecil dibanding pria yang tidak merokok (Ozguner, 2005).


4.2.2 Pengamatan Sperma Pada Manusia (perokok II)
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia perokok II memiliki volume 2,3 ml, berwarna putih agak kekuningan, pHnya 7, dan kekentalannya lebih kental daripada perokok I. Pada sperma perokok II ini tidak terlalu motil karena gerak massanya terlihat. Ada sperma yang bergerak dan ada juga yang diam, bergeraknya berlekuk-lekuk, lurus, memutar-mutar, ada yang cepat, dan lambat.
 Abnormalitas spermanya ditandai adanya caput ukurannya lebih besar, ada sperma yang berkepala dua berjumlah 5, ditemukan kepala yang bengkok, ujung caput yang runcing berjumlah 2, ekornya putus ada 3, dan caput kecil. Viabilitas sperma pada perokok II yakni, jumlah sperma yang mati (85%) lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (15%). Hal tersebut telah menunjukkan bahwa kualitas sperma pada perokok II kurang bagus (+). Disamping itu, mungkin adanya faktor lingkungan terlalu lama dalam suhu kamar dan faktor manusia (individu) itu sendiri seperti nutrisi, tingkat mengkonsumsi rokok.
Testes sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu 1) mengahasilkan spermatozoa atau sel-sel kelamin jantan, dan 2) mensekresikan hormon kelamin jantan, testosteron. Spermatozoa dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone), sedangkan testosteron diproduksi oleh sel-sel intertitial dari Leydig atas pengaruh ICSH (Intertitial Cell Stimulating Hormone) (Toelihere, 1981).
Spermatozoa yang telah terbentuk dapat sampai ke urethra (saluran keluar pada penis) jika dibantu oleh cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar cowper. Cairan yang dihasilkan vesikula seminalis berfungsi membantu spermatozoa agar mudah bergerak, memberi nutrien, dan menormalkan keasaman PH saluran reproduksi wanita pada saat kopulasi. Spermatozoa bersama cairan tersebut disebut dengan istilah semen. Seorang laki-laki saat kopulasi dapat mengeluarkan sekitar 350-360 juta sel sperma dari 3ml (Prasetyo, 2008).
Konsentrasi spermatozoa pada umur produktif lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi pada umur tua. Hal ini terjadi karena pada umur tua, aktivitas proses spermatogenesis sudah semakin menurun sehingga spermatozoa yang dihasilkan akan menurun juga. Pada usia lanjut jumlah spermatogonia tipe A yang merupakan sumber spermatozoa akan menurun. Selain itu sel Sertoli yang merupakan sumber nutrisi bagi spermazoa dan sel Leydig yang memproduksi testosteron juga akan menurun jumlahnya seiring dengan bertambahnya umur (Prasetyo, 2008).
Para peneliti menyatakan rokok memang bertanggungjawab terhadap jeleknya kualitas sel sperma. Dan sel sperma yang membawa kromosom Y -yang menciptakan embrio laki-laki- sangat rentan terhadap serangan racun berbahaya akibat rokok dibandingkan sel sperma pembawa kromosom X, yang bertanggungjawab terhadap kelahiran anak.  Merokok dapat menambah resiko kesuburan dan disfungsi ereksi pada pria. Sperma dari pria perokok yang menghabiskan 1 atau 2 bungkus rokok per hari dapat menyebabkan masalah pernafasan bayi (Ozguner, 2005).

4.2.3 Pengamatan Sperma Pada Manusia Tidak Merokok
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia tidak merokok memiliki volume 2,8 ml, berwarna putih susu bening, pHnya 7, kekentalannya lebih kental dibandingkan perokok (I dan II). Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas  sperma bagus. Pada sperma manusia tidak merokok, geraknya banyak yang pasif, karena (mungkin) faktor lingkungan yang terlalu lama dalam suhu kamar. Terdapat sperma yang bergerak dengan cara memutar, berlekuk-lekuk, bergerak lurus, dan ada juga dengan spiral. Abnormalitas spermanya ditandai adanya sperma yang kepalanya bengkok, kepalanya ada yang kecil, caudanya putus, dan banyak yang diam (pasif).
            Viabilitas sperma pada manusia tidak merokok yaitu jumlah sperma yang mati (75%) lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (25%). Hal ini telah menunjukkan bahwa kualitas sperma cukup bagus, meskipun prosentase sperma yang hidup kurang dari 50% (25%). Jika dibandingkan dengan perokok I dan II kualitas spermanya lebih bagus tidak merokok. Telah dibuktikan dengan nyata bahwa mengkonsumsi rokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya berakibat pada sel kelamin. Disamping itu adanya faktor-faktor dari luar seperti nutrisi dll.
Menurut Yatim (1994), volume sperma pria dapat digolongkan atas :
1. Aspermia           : 0 ml
2. Hypospermia     : < 1 ml
3. Normospermia  : 1-6 ml
4. Hyperspermia   : > 6 ml
            Warna normal ialah seperti lem kanji atau putih-kelabu. Jika agak lama abstinensi kekuningan. Jika putih atau kuning tandanya banyak lekosit, yang mungkin oleh adanya infeksi pada genetalia. Beberapa macam obat, seperti antibiotika dapat mewarnai semen (Yatim, 1994).
            Semen normal setelah ejakulasi segera menggumpal (koagulasi). Kalau langsung encer ketika di tamping berarti ada gangguan pada vesikula seminalis atau ductus ejakulatorius. Kekentalan semen dapat diperiksa dengan alat yang disebut viscometer. Secara sederhana dapat dilakukan dengan jalan mencelupkan batang kaca ke obyek yang sudah ditetesi semen, diangkat pelan, diukur tinggi benang yang terjadi antara batang kaca dan obyek sampai batas putus. Viskositas normal jika panjang benang 3-5 cm (Yatim, 1994).
Spermatozoa atau sperma dihasilkan oleh testis melalui proses yang disebut spermatogenesis. Sperma pertama kali dilepaskan pada saat pubertas, dan ini merupakan puncak dari serangkaian kejadian yang diawali kehidupan fetus. Spermatozoa pada spesies yang berbeda mempunyain ukuran yang bervariasi. Pada umumnya sperma terdiri atlas dua tipe yaitu sperma yang memiliki ekor dinamakan sperma tipe hematospermium sedangkan sperma yang tidak memiliki ekor dinamakan sperma tipe anemotispermium (Adnan, 2006).
            Alat gerak sperma terletak pada bagian ekor spermatozoa yang disusun oleh aksonema, pada spermatozoa mempunyai struktur flagella atau silia. Aksonema terdiri atas sepasang mikrotubulus sentral (mikrotubulus singlet) dikelilingi oleh  pasang mikrotubulus duplet disebelah luarnya (Ozguner, 2005).

4.2.4 Pengamatan Sperma Pada Kambing
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma kambing (hewan), hal ini berbeda dari segi morfologi sperma maupun pengamatan makroskopik dan mikroskopik. Karena antara morfologi sperma manusia dan kambing (hewan) itu berbeda. Pada sperma kambing memiliki volume 2 ml, berwarna putih agak kekuning-kuningan, pHnya 6, dan kekentalannya sangat kental dibandingkan pada manusia perokok I, II, dan manusia tidak merokok. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas sperma kambing sangat bagus mungkin kambing (hewan) herbivora, sehingga tidak adanya kontaminasi nutrisi pada bahan kimia.
 Hasil pengamatan pada sperma kambing berbentuk caput lonjong, caudanya lebih panjang dari sperma manusia, geraknya lurus, pergerakannya normal, tapi bergerak lambat. Abnormalitasnya ekor melekuk / tidak lurus, caput pipih. Viabilitas sperma sesudah diencerkan yang hidup 10% dan yang mati 90%. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang hidup 10% tidak menyerap warna dan yang mati 90 menyerap warna lebih banyak.     
Menurut Hafez (2000), menyatakan bahwa volume per ejakulat pada kambing adalah antara 0,20 sampai dengan 1,20 ml. Jika dibandingkan dengan standar Kampoeng Ternak (minimal 0,80 ml), hasil tersebut menunjukkan bahwa semua pejantan masuk standar.
Warna semen pada kambing krem, kental. Secara umum hasil ini sesuai dengan standar penelitian. pH berada pada kisaran 5,9 – 7,3. Pemeriksaan secara mikroskopik, gerakan massa semen yang diperiksa semuanya berada pada kondisi positif 3 (+++), yang berarti gerakan cepat berpindah. Motilitas spermatozoa sebesar 87,50 % (Ozguner, 2005).
Menurut Toelihere (1979), motilitas atau daya gerak spermatozoa dijadikan patokan sederhana dalam penilaian kualitas semen untuk inseminasi buatan. Motilitas juga dapat menunjukkan kemampuan spermatozoa untuk mencapai saluran reproduksi betina. Dengan kualitas motilitas di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas semen hasil pemeriksaan dapat digunakan untuk inseminasi buatan.

4.2.5 Perbandingan Pengamatan Sperma Manusia Perokok I dengan Perokok II       
Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia perokok I memiliki volume 1 ml, berwarna putih agak kekuningan, kekentalannya agak encer dan pHnya 7. Pada sperma perokok I ini banyak yang mati, karena tidak terlihat gerak massanya dan tidak motil (gerak pasif). Terdapat sperma yang gerak lurus (sedikit), ada juga gerak dengan memutar-mutar, dan yang berlekuk-lekuk tapi sangat lambat. Hal ini mungkin pengaruh suhu lingkungan dan perlakuan terhadap pewarnaan.
 Jumlah spermanya banyak yang mati daripada perokok II. Jumlah sperma yang hidup 10 % dan sperma yang mati  90 % dan banyak yang abnormal seperti yang telah diamati yaitu adanya sperma berkepala 2, lehernya agak besar, dan caudanya putus. Hal tersebut telah membuktikan, bahwa kualitas sperma pada manusia (perokok I) jelek (-) karena jumlah kematian sperma (90%), lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (10%). Disamping itu pula, terdapat faktor dari manusia itu sendiri (nitrisi, tingkat merokok). 
Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia perokok II memiliki volume 2,3 ml, berwarna putih agak kekuningan, pHnya 7, dan kekentalannya lebih kental daripada perokok I. Pada sperma perokok II ini tidak terlalu motil karena gerak massanya terlihat. Ada sperma yang bergerak dan ada juga yang diam, bergeraknya berlekuk-lekuk, lurus, memutar-mutar, ada yang cepat, dan lambat.
 Abnormalitas spermanya ditandai adanya caput ukurannya lebih besar, ada sperma yang berkepala dua berjumlah 5, ditemukan kepala yang bengkok, ujung caput yang runcing berjumlah 2, ekornya putus ada 3, dan caput kecil. Viabilitas sperma pada perokok II yakni, jumlah sperma yang mati (85%) lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (15%). Hal tersebut telah menunjukkan bahwa kualitas sperma pada perokok II kurang bagus (+). Disamping itu, mungkin adanya faktor lingkungan terlalu lama dalam suhu kamar dan faktor manusia (individu) itu sendiri seperti nutrisi, tingkat mengkonsumsi rokok.

4.2.6 Perbandingan Pengamatan Sperma Manusia Tidak Merokok dengan Sperma Manusia Perokok II  
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia tidak merokok memiliki volume 2,8 ml, berwarna putih susu bening, pHnya 7, kekentalannya lebih kental dibandingkan perokok (I dan II). Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas  sperma bagus. Pada sperma manusia tidak merokok, geraknya banyak yang pasif, karena (mungkin) faktor lingkungan yang terlalu lama dalam suhu kamar. Terdapat sperma yang bergerak dengan cara memutar, berlekuk-lekuk, bergerak lurus, dan ada juga dengan spiral. Abnormalitas spermanya ditandai adanya sperma yang kepalanya bengkok, kepalanya ada yang kecil, caudanya putus, dan banyak yang diam (pasif).
            Viabilitas sperma pada manusia tidak merokok yaitu jumlah sperma yang mati (75%) lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (25%). Hal ini telah menunjukkan bahwa kualitas sperma cukup bagus, meskipun prosentase sperma yang hidup kurang dari 50% (25%). Jika dibandingkan dengan perokok I dan II kualitas spermanya lebih bagus tidak merokok. Telah dibuktikan dengan nyata bahwa mengkonsumsi rokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya berakibat pada sel kelamin. Disamping itu adanya faktor-faktor dari luar seperti nutrisi dll. 
Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia perokok II memiliki volume 2,3 ml, berwarna putih agak kekuningan, pHnya 7, dan kekentalannya lebih kental daripada perokok I. Pada sperma perokok II ini tidak terlalu motil karena gerak massanya terlihat. Ada sperma yang bergerak dan ada juga yang diam, bergeraknya berlekuk-lekuk, lurus, memutar-mutar, ada yang cepat, dan lambat.
 Abnormalitas spermanya ditandai adanya caput ukurannya lebih besar, ada sperma yang berkepala dua berjumlah 5, ditemukan kepala yang bengkok, ujung caput yang runcing berjumlah 2, ekornya putus ada 3, dan caput kecil. Viabilitas sperma pada perokok II yakni, jumlah sperma yang mati (85%) lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (15%). Hal tersebut telah menunjukkan bahwa kualitas sperma pada perokok II kurang bagus (+). Disamping itu, mungkin adanya faktor lingkungan terlalu lama dalam suhu kamar dan faktor manusia (individu) itu sendiri seperti nutrisi, tingkat mengkonsumsi rokok.

            Perbandingan Pengamatan Sperma Manusia Tidak Merokok dengan Sperma Kambing (Hewan)        
Berdasarkan hasil pengamatan pada sperma manusia tidak merokok memiliki volume 2,8 ml, berwarna putih susu bening, pHnya 7, kekentalannya lebih kental dibandingkan perokok (I dan II). Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas  sperma bagus. Pada sperma manusia tidak merokok, geraknya banyak yang pasif, karena (mungkin) faktor lingkungan yang terlalu lama dalam suhu kamar. Terdapat sperma yang bergerak dengan cara memutar, berlekuk-lekuk, bergerak lurus, dan ada juga dengan spiral. Abnormalitas spermanya ditandai adanya sperma yang kepalanya bengkok, kepalanya ada yang kecil, caudanya putus, dan banyak yang diam (pasif).
            Viabilitas sperma pada manusia tidak merokok yaitu jumlah sperma yang mati (75%) lebih besar daripada jumlah sperma yang hidup (25%). Hal ini telah menunjukkan bahwa kualitas sperma cukup bagus, meskipun prosentase sperma yang hidup kurang dari 50% (25%). Jika dibandingkan dengan perokok I dan II kualitas spermanya lebih bagus tidak merokok. Telah dibuktikan dengan nyata bahwa mengkonsumsi rokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya berakibat pada sel kelamin. Disamping itu adanya faktor-faktor dari luar seperti nutrisi dll.              
Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan pada sperma kambing (hewan), hal ini berbeda dari segi morfologi sperma maupun pengamatan makroskopik dan mikroskopik. Karena antara morfologi sperma manusia dan kambing (hewan) itu berbeda. Pada sperma kambing memiliki volume 2 ml, berwarna putih agak kekuning-kuningan, pHnya 6, dan kekentalannya sangat kental dibandingkan pada manusia perokok I, II, dan manusia tidak merokok. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas sperma kambing sangat bagus mungkin kambing (hewan) herbivora, sehingga tidak adanya kontaminasi nutrisi pada bahan kimia.
 Hasil pengamatan pada sperma kambing berbentuk caput lonjong, caudanya lebih panjang dari sperma manusia, geraknya lurus, pergerakannya normal, tapi bergerak lambat. Abnormalitasnya ekor melekuk / tidak lurus, caput pipih. Viabilitas sperma sesudah diencerkan yang hidup 10% dan yang mati 90%. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang hidup 10% tidak menyerap warna dan yang mati 90 menyerap warna lebih banyak.  






BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas serta didukung oleh beberapa literatur maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Gamet (sel kelamin) merupakan produk akhir dari gametogenesis yang berlangsung di dalam gonad (testis).
2. Sperma yaitu sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina.
3. Secara esensial sperma terdiri dari kepala, leher dan ekor.
4. Pada pengamatan sperma pada pria merokok 1, warna sperma putih agak bening dan encer. Motilitas atau daya gerak tidak bagus. Sekitar 65 % bentuk sperma normal dan 35 % sperma tidak normal. Pria perokok memiliki jumlah sperma lebih kecil dibanding pria yang tidak merokok.
5. Pada pengamatan sperma pada pria tidak merokok warnanya putih kekuningan, dan kental. Motilitas atau daya gerak bagus. Sekitar 90 % sperma normal dan 10 % tidak normal. Bentuk kepala sperma normal berbentuk bulat telur, ekor lebih panjang daripada leher.
6. Pada pengamatan sperma pada kambing warna putih kekuningan (sangat pekat) dan sangat kental. Motilitas atau daya gerak bagus. Sekitar 80 % bentuk sperma yang normal dan 20 % sperma yang tidak normal. Pada kambing bentuk kepala sperma pipih memanjang, dengan leher dan ekor sperma pendek.
7. Pada pengamatan pria merokok 2, warna sperma putih agak bening dan encer. Motilitas atau daya gerak sangat tidak bagus Sekitar 60 % bentuk sperma normal dan 40 % sperma tidak normal. Secara signifikan merokok dapat menurunkan jumlah sperma dan motilitas sperma.





5.2 Saran
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan diharapkan adanya kerjasama antara para praktikan, asisten laboratorium serta para dosen pengampu mata kuliah Struktur Perkembangan Hewan II ini, agar praktikum ini berjalan sesuai yang diharapkan. Demii terciptanya suasana praktikum yang lancar diharapkan disiplin waktu.


















DAFTAR PUSTAKA

Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi. Makasar : Jurusan Biologi FMIPA UNM
Campbell, N. A.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga
Ozguner M, Koyu A, Cesur G et al. 2005 Biological and morphological effects on the reproductive organ of rats after exposure to electromagnetic field. Saudi Medical Journal 26, 405-410
Prasetyo, W. E. 2008a. Usia Tua Mempengaruhi Kulaitas Sperma . Bogor : Agricultural University
Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Purwokerto : Fakultas Biologi Unsoed
Soeminto. 1993. Dasar – dasar Embriologi. Purwokerto : Fakultas Biologi Unsoed
Toelihere. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada  Ternak. Bandung: Angkasa
Wongso, Anton Darsono.2007. Membaca Analisis Sperma. http:// klinik andrologi blogspot.com.diakses tanggal 17 mei 2009
Yatim, wildan. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito
Yatim, wildan. 1996. Histologi. Bandung: Tarsito




0 komentar:

Poskan Komentar