salam

Pages

Rabu, 17 April 2013

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II “ BUNGA ”

 
BAB I
PENDAHULUAN

I. I  Latar belakang
 Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota.  Tumbuhan dapat memperbanyak diri atau berkembang biak. Yang dapat menjadi tumbuhan baru adalah suatu bagian tubuh tumbuhan. Yang kemudian dapat memisahkan diri atas oleh manusia dengan sengaja dipisahkan dari tumbuhan yang lama (Sumardi, 1993).
Bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan disebut dengan  bunga, oleh karena itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi alat perkembangbiakan vegetatif dan alat perkembangan generatif yang pada tumbuhan adalah bijinya. Biji terdapat dalam buah, dan buah berasal dari bunga. Bunga mempunyai susunan  yang bermacam- macam yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk. Yang mempunyai bagian- bagian seperti tangkai bunga (pedicellus),  Dasar bunga (reseptaculum), dan lain- lain (Tjitrosoepomo, 1995).

I. 2 Rumusan masalah
            Adapun rumusan masalah dari praktikum anatomi bunga ini antara lain:
1.    Bagaimana struktur anatomi bagian-bagian bunga seperti : sepalum, petalum, benang sari, dan putik ?

I.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka di dapatkan tujuannya sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui struktur anatomi bagian-bagian bunga seperti : sepalum, petalum, benang sari, dan putik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Pengertian bunga
            Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota. Bunga adalah bagian tumbuhan yang berfungsi sebagai alat untuk mengadakan penyerbukan dan pembuahan sehingga terbentuk buah dengan biji yang digunakan untuk perkembangbiakan generatif pada tumbuhan biji. Bagian tubuh tumbuhan yang kemudian dapat tumbuh menjadi individu baru dinamakan : alat perkembangan (organum reproductivum). Dan bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan sangat bermacam- macam, oleh karena itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi alat perkembangbiakan vegetatif dan alat perkembangan generatif yang pada tumbuhan adalah bijinya. Biji terdapat dalam buah, dan buah berasal dari bunga (Sumardi, 1993).
            Bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan disebut dengan  bunga, oleh karena itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi alat perkembangbiakan vegetatif dan alat perkembangan generatif yang pada tumbuhan adalah bijinya. Biji terdapat dalam buah, dan buah berasal dari bunga. Bunga mempunyai susunan  yang bermacam- macam yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk. Yang mempunyai bagian- bagian seperti tangkai bunga (pedicellus),  Dasar bunga (reseptaculum), dam lain- lain (Tjitrosoepomo, 1995).

2.2 Bagian- bagian bunga
            Bagian- bagian bunga antara lain :
a.       Tangkai bunga (pedicellus), yang bagian bunga yang masih jelas bersifat batang.
b.      Dasar bunga (reseptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas- ruas yang amat pendek, sehingga daun– daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi bagian- bagian bunga.
c.       Hiasan bunga (perianthium),
-          Kelopak (kalyx), yaitu bagian hiasan bunga yang nmerupakan lingkaran luar, biasanya berwarna hijau,
-          Tajuk bunga (corolla), yaitu bagian hiasan bunga yang terdapat pada lingkar dalam, biasanya tidak berwarna hijau lagi.
d.      Alat- alat kelamin jantan (androecium): bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari (stamen),
e.       Alat- alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut putik (pistillum).

(Resmisari, 2008)

f.       Melihat bagian- bagian bunga (tangkai dan dasar bunganya tidak terhitungkan),  maka bunga dapat dibedakan dalam :
-          Bunga lengkap atau sempurna (flos completusl), yang terdiri atas : 1 lingkaran daun- daun  kelopak, 1 lingkaran daun- daun mahkota, 1 atau 2 lingkaran benang sari dan satu lingkaran daun- daun buah. Bunga yang bagian- bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran.


(Iriawati, 1998)

Bunga terdiri atas sebuah sumbu yang padanya organ-organ bunga yang lain tumbuh. Bagian dari sumbu yang merupakan ruas yang berakhir dengan tangkai bunga (pedisel). Ujung distal pedisel ini mengembang dengan panjang yang beragam dan bagian ini disebut reseptakael bunga (talamus). Organ-organ bunga melekat pada reseptakel. Sebuah bunga yang khas mempunyai empat macam organ. Organ-organ yang paling luar adalah sepal yang secara bersama-sama membentuk kaliks yang biasanya berwaran hijau dan ditemukan paling rendah kedudukannya pada reseptakel. Disebelah dalam sepal adalah corolla yang terdiri atas petal, pada umumnya berwarna yang membentuk perhiasan bunga. Bila semua perhiasan bunga itu sama, mereka disebut tepal. Di dalam perhiasan bunga dijumpai dua macam organ reproduksi, yang sebelah luar disebut stamen yang bersma-sama membentuk androsium, dan sebelah dalam di sebut karpel yang membentuk ginesium (Fahn, 1991).
Jumlah lapisan dinding kepala sari bervariasi. Lapisan dinding ini merupakan diferensiasi dari lapisan parietal primer, yang terletak disebelah dalam epidermis. Epidermis merupakan lapisan dinding terluar, kadang-kadang berbentuk papila. Endotesium, terletak di bawah epidermis. Pada waktu kepala sari masak, endotesium membentuk dinding sekunder, pada bagian antiklinal dan dinding tangensial bagian dalam. Penebalan antiklinal menyebabkan terbentuknya struktur yang berserabut oleh karena itu endotesium sering disebut lamina fibrosa. Lapisan tengah terletak sebelah dalam endotesium, yang terdiri atas 2-3 lapisan sel. Pada waktu kepala sari masak, sel-selnya terdesak oleh endotesium, sehingga lapisan ini disebut pula lapisan tertekan. Tapetum, merupakan lapisan terdalam dari dinding kepala sari. Sel-selnya mengandung protoplas yang padat dengan inti yang jelas. Tapetum mempunyai fungsi nutritif bagi sel induk serbuk sari maupun serbuk sari yang masih muda. Serbuk sari yang telah masak keluar melalui lubang yang terjadi pada dinding antera yang disebut stomium. Serbuk sari berasal dari sel induk serbuk (Sumardi, 1993).


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan tentang Anatomi ” Bunga ” ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 14 Mei 2009 di Laboratorium Biologi Pendidikan Dasar I Universitas Islam Negeri Malang pada pukul 07.00- 09.00 WIB.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat- alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain:
1.       Mikroskop                                       1 buah
2.       Kaca benda                                      5 buah
3.       Tutup benda                                     5 buah
4.       Pisau silet                                        1 buah
5.       Pipet tetes                                        1 buah
6.       Pinset                                              1 buah

3.2.2 Bahan
Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain :
1. Tangkai bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2. Putik bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
3. Benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
4. Bakal buah buah sepatu (Hibiscus rosasinensis).

3.3 Cara kerja
3.3.1 Preparat tangkai bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.       Dibuat irisan melintang dari tangkai bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.       Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.       Digambar dan dicari bagian-bagiannya.



3.3.2 Preparat putik bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.         Dibuat irisan melintang dari putik bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.         Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.         Digambar dan dicari bagian-bagiannya.

3.3.3 Preparat benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.         Dibuat irisan melintang dari benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.         Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.         Digambar dan dicari bagian-bagiannya.

3.3.4 Bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.         Dibuat irisan melintang dari bakal buah  bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.         Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.         Digambar dan dicari bagian-bagiannya


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil pengamatan
Gambar asli
Gambar literatur
Irisan melintang benang sari


















(Iriawati, 1998)



Irisan melintang bakal buah




(Iriawati, 1998)


Irisan melintang tangkai putik


(Iriawati, 1998)




Irisan melintang putik


(Iriawati, 1998)








4.2 Pembahasan
4.2.1  Pada benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
      Pada hasil pengamatan yang telah kami lakukan pada benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40, adanya dinding mikrospora yang berwarna cokelat kekuning-kuningan, sedangkan warna dari serbuk sari berwarna kuning, dan terdapat konektium, tapetum, mikrospora tetra, jaringan epidermis, dan endotesium.



Gambar. Stamen pada bunga
 (Anonymous,2008)

Stamen terdiri dari tangkai sari atau filamen dan dibagian distal terdapat kepala sari atau antera. Pada antera biasanya terdapat dua bagian, masing-masing bercuping dua. Kedua bagian antera bersambungan di tengah dengan penghubung kepala sari, atau konektivum. Setiap bagian mengandung dua buah kantung sari atau kumpulan karpel yang bersatu menjadi ginesium. Biasanya terdiri dari 3 bagian, yakni bakal buah dengan bakal biji atau ovulum, tangkai putik atau stylus, serta kepala putik atau stigma yang strukturnya memudahkan polinasi (Hidayat, 1995).
 Benang sari terdiri atas kepala sari dan tangkai sari. Tangkai sari tersusun oleh jaringan dasar, yaitu sel-sel parenkimatis yang menyerupai vakuola, tanpa ruang antar sel. Sel-sel ini sering mengandung pigmen, epidermis dengan kutikula, trikhoma, mungkin stomata dan mungkin juga stomata tetap terbuka seperti pada hidatoda. Kepala sari mempunyai struktur yang sangat kompleks, terdiri atas dinding yang berlapis-lapis, dan dibagian terdapat loculus ruang sari (mikrosporangium) yang berisi butir-butir serbuk sari (Sumardi, 1993).

4.2.2 Bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).

Pada pengamatan yang kami lakukan dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40,  pada bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) terdapat adanya bakal buah, bakal biji, serta ruang bakal buah, dan ditemukan plasmalema serta jaringan pengangkut.
Bakal buah dibedakan menjadi dinding bakal buah dan ruang bakal buah. Pada bakal buah beruang banyak terdapat sekat pemisah. Bakal biji atau ovulum terdapat pada daerah dinding bakal buah dalam (adaksial) yang disebut plasenta (Savitri, 1995).
Pembentukan megasfora melalui peristiwa sel induk megasfora disebut megasforogenesis. Megasfora bisa dikatakan juga sebagai kantung embrio, dan akan berkecambah dengan terjadinya mitosis pada intinya yang akhirnya memberikan kantung embrio dewasa yang berinti delapan. Di banyak Angiospermae, kantong embrio matang berisi 8 inti, masing-masing sering mempunyai dinding sel. Ketiga sel dekat dengan mikropil yaitu sel telur dan dua sel sinergid. Di dekat kalaza terdapat 3 sel antipoda. Dua buah inti di tengah di sebut inti polar. Jika keduanya bersatu, jumlah sel dalam kantung embrio menjadi 7. Sel antipoda sering berdegenerasi di awal pertumbuhan. Pada sinergid biasanya terdapat penebalan dinding yang disebut aparat filiform (seperti benang) yang meluas dibagian sel dekat mikropil (Hidayat, 1995).
Setiap bakal biji atau ovulum melekat pada dinding ovarium dengan adanya tangkai bakal biji (funikulus) yang mengandung satu berkas pembuluh. Bakal biji terdiri dari jaringan tengah atau nuselus, dilingkari dengan integumen dalam dan integumen luar. Kedua integumen mengelilingi satu saluran yang bermuara di pori, disebut mikropil. Daerah nukleus, integumen, dan funikulus berhubungan disebut kalaza, sering terletak berhadapan dengan mikropil. Tabung sari tumbuh melalui mikropil di saat fertilisasi. Sebagaimana pada tapetum antera, nukleus biasanya sudah tak ada ketika bakal biji mencapai taraf dewasa karena telah berdegenerasi (Hidayat, 1995).
4.2.3 Tangkai putik bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
 Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan yaitu adanya jaringan angkut, jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan terdapat beberapa trikoma pada bagian epidermis.
Stylus merupakan bagian karpel yang memanjang ke atas (distal). Pada kebanyakan angiospermae, stylusnya padat dan jaringan di tengah terspesialisasi menjadi jaringan transmisi yang merupakan jalan bagi buluh serbuk sari untuk mencapai bakal biji. Stylus ada yang berongga dan ada yang padat. Pada stylus yang berongga, butir sari berkecambah dan menghasilkan tabung sari yang kemudian tumbuh melalui tepi rongga tangkai sari yang dilapisi sel sekresi. Pada stylus padat melalui jaringan transmisi. Jaringan transmisi  menyediakan nutrisi yang berfungsi untuk membantu pertumbuhan buluh serbuk sari melalui stylus. Jaringan dasar stylus bersifat parenkim dan ditembus oleh berkas pembuluh angkut (Savitri, 2005).
4.2.4  Putik bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan adanya stigma kering yang berwarna merah, stigma basah yang berwarna orange, serta adanya butir sari berwarna kuning.
Putik tediri dari dari kepala putik, tangkai kepala putik, dan bakal buah. Tangkai kepala putik juga terdiri dari jaringan parenkimatis. Pada kepala putik kadang dijumpai papilla pada epidermisnya. Bakal buah meliputi dinding bakal buah yang ruang ovariumnya lebih dari satu dapat ditemukan septum. Dinding bakal buah parenkimatis dan didalamnya terdapat berkas pengangkut. Berkas pengangkut juga dapat dijumpai dalam septum. Di dalam ruang bakal buah ditemukan juga bakal biji yang tersusun dari jaringan parenkimatis (Savitri,2008).


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan dari beberapa sumber literatur maka dapat diambil kesimpulan :
1.      Pada hasil pengamatan yang telah kami lakukan pada benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40, adanya dinding mikrospora yang berwarna cokelat kekuning-kuningan, sedangkan warna dari serbuk sari berwarna kuning, dan terdapat konektium, tapetum, mikrospora tetra, jaringan epidermis, dan endotesium.
2.      Pada pengamatan yang kami lakukan dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40,  pada bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) terdapat adanya bakal buah, bakal biji, serta ruang bakal buah, dan ditemukan plasmalema serta jaringan pengangkut.
3.      Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan yaitu adanya jaringan angkut, jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan terdapat beberapa trikoma pada bagian epidermis.
4.      Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan adanya stigma kering yang berwarna merah, stigma basah yang berwarna orange, serta adanya butir sari berwarna kuning.

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II "PENGAMATAN EMBRIO"


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ilmu pertumbuhan embryo, sejak pembuahan sampai kelahiran. Disebut juga ilmu mudigah. Cakupan ilmu ini meluas kepada masalah persiapan untuk terjadinya pembuahan serta masalah pembiakan pada umumnya. Bagi hewan yang memiliki tingkat berudu ilmu ini juga mencakup sampai saat berudu itu bermetamorphosis (Yatim, 1994: 7).
Sesungguhnya embriyologi berlaku bagi segenap makhluk. Pada Botani dikenal juga ilmu ini. Periode pertumbuhan embrio terdiri atas 5 periode yaitu sebagai berikut: Periode persiapan, Periode pembuahan, Periode pertumbuhan awal, Periode antara dan Periode pertumbuhan akhir.
Pada kesempatan kali ini kami melakukan pengamatan pada embrio-embrio yaitu pada embrio mencit, awetan embrio tikus,  awetan embrio kelinci dan awetan embrio pada sapi. Karena contoh-contoh diatas merupakan representatif dari masing-masing kelasnya.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah didalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana morfologi dari awetan embrio sapi, embrio kelinci dan embrio tikus ?
2.      Bagaimana perkembangan embrio pada mencit secara morfologi selama periode kebuntingan?



1.2  Tujuan
Adapun tujuan kami didalam melakukan praktikum kali ini ialah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui morfologi dari awetan embrio sapi, embrio kelinci dan embrio tikus.
2.     Untuk mengetahui perkembangan embrio pada mencit secara morfologi selama periode kebuntingan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Embriologi
Embriologi adalah ilmu yang mempelajari tentang embrio dan segala sesuatu yang berhubungan dengan embrio. Sedangkan yang dimaksud dengan embrio ialah hasil peleburan sel zigot yang membelah secara mitosis dan terus-menerus (Wiyono, 2005: 96-97).
             Untuk mengetahui atau membedakan bahwa hewan tersebut bunting atau tidak, maka dapat diperhatikan letak rumen yang ada disebelah kiri ruang abdomen, yang agak jauh dari rectum. Karena jauhnya siku kita harus ikut masuk ke dalam rektum untuk dapat mencapainya (Partodihardjo, 1992:251-252).

Alat reproduksi mencit jantan terdiri dari sepanjang testis, uretra dan penis. Sedangkan mencit betina terdiri dari sepanjang ovarium, oviduct, uterus, cervic, dan vagina. Mencit betina mempunyai lima pasang kelenjar mammae dengan tiga di antaranya terletak di daerah cervicothorac dan dua lainnya di daerah inguinoaabdominalis. Pengaruh luar seperti suara keras , pakan, cahaya, kepadatan dalam kandang memegang peranan penting dalam proses reproduksi yang akan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi  hypothalamumic-pituitary axis yang berkaitan dengan fungsi ovarium dan testis. Perkawinan mencit didektesi dengan terbentuknya vaginal plung yang menutup vagina dan cervix sampai vulva. Terdapat dua macam sistem kawin yang dipakai yaitu pasangan monogami (seekor jantan dan seekor betina) dan pologami (seekor jantan untuk dua atau tiga ekor betina) (Kusumawati, 2004: 49).
Organogenesis disebut juga morphogenesis. Embrio bentuk primitive tumbuh menjadi bentuk definitive dan memiliki bentuk dan rupa yang spesifik bagi keluarga hewan dalam satu spesies. Pada periode ini embrio akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu spesies. Sudah terlihat di sini adanya bentuk yang bentuk katak, bentuk ayam, bentuk babi atau bentuk manusia manusia umpanya. Pada periode pertumbuahan akhir, penyelesaian pertumbuhan jenis kelamin, watak (karakter fisik dan psikis) serta rongga atau wajah yang khusus bagi setiap individu. Periode pertumbuahan antara jelas dapat diberi batasanbya dengan periode pertumbuhan akhir pada hewan yang berberudu, seperti umum terdapat pada Vertebrata, Pisces dan Amphibia. Bagi hewan ini periode periode pertumbuhan antara tingkat berudu (Yatim,1994: 118).


BAB III
METODE PENGAMATAN

3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu pengamatan kami pada tanggal 28 Juni 2010, tepatnya pada hari Sabtu pukul 13:00 WIB. Di laboratorium Dasar Biologi lantai satu UIN Malang.
3.2 Alat dan Bahan
            Didalam praktikum kali ini kami membutuhkan alat-alat dan bahan-bahan untuk memdahkan jalannya praktikum kami.
            Adapun alat-alat yang kami pergunakan dalam praktikum ini senagai berikut:
1.      Sepengkat alat bedah                    1 Buah
2.      Papan seksi                                    1 Buah
3.      Lap atau tissue                              Secukupnya
4.      Lup atau kaca pembesar                1 Buah
5.      Kapas                                            Secukupnya
6.      Mikroskop Elektron                      1 Buah
Adapun bahan-bahan yang kami perlukan dalam praktikum kali ini ialah sebagai berikut :
1.      Mencit betina yang bunting          1 Ekor
2.      Awetan emrio sapi                        2 Awetan
3.      Awetan embrio kelinci                  4 Awetan
4.      Awetan embrio tikus                     2 Awetan
5.      Klorofom                                      Secukupnya
3.3 Cara Kerja
Sebelum melakukan kegiatan pengamatan, adapun prosedur kerja sebagai berikut :
  1. Memilih mencit betina yang sudah bunting, kemudian membius mencit dengan menggunakan klorofom.
  2. Melihat apakah mencit tersebut sudah mati atau belum, jika sudah mati maka mencit tersebut dapat dipindahkan di atas papan seksi.
  3. Membedah mencit tersebut dengan dimulai dari bagian extremitas bawah ke extremitas atas.
  4. Membersihkan organ-organ pada tubuh mencit dan membiarkan embrio atau fetus pada ovarium mencit.
  5. Memotong embrio mencit dengan sangat hati-hati kemudian mengamati embrio mencit dibawah mikroskop dengan mencocokkan dengan gambar literatur.
  6. Untuk embrio kelinci, embrio sapi, dan embriotikus semua ini menggunakan awetan yang sudah disediakan oleh asisten laboratorium.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1              Hasil Pengamatan




  




Berikut merupakan data hasil pengamatan embrio pada mencit dan awetan-awetan embrio yang telah disediakan:










Gambar  : Anatomi Embrio pada Tikus
Keterangan gambar:
1.       Kepala                           5.   Bakal Telingga
2.       Perut                               6.   Tangan
3.       Bakal mulut                 7.    Kaki
4.       Bakal Ekor











Gambar: Anatomi Embrio pada Kelinci
Keterangan gambar:
1.       Mata                              5.   Tangan
2.       Kepala                           6.   Kaki
3.       Bakal mulut                   
4.       Bakal Ekor






Gambar 5 : Anatomi Reproduksi Mencit Betina


Gambar: Anatomi Embrio pada Mencit
Keterangan gambar:
1.       Kepala                           5.   Bakal Telingga
2.       Perut                               6.   Tangan
3.       Bakal mulut                 7.    Kaki
4.       Bakal Ekor


Gambar 6: Anatomi Reproduksi Merpati Betina









Gambar : Anatomi Embrio pada Sapi
Keterangan gambar:
1.       Kepala                           5.   Telingga                          9.   Bakal Testis
2.       Perut                               6.   Tangan                            10.  Plasenta
3.       mulut                             7.   Kaki
4.       Ekor                               8.   Bakal Penis




4.2               Pembahasan
Dari hasil pengamatan dan data deskripsi, maka dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :
1)      Awetan Embrio pada Tikus
          Pada pengamatan kali ini kami menggunakan mikroskop sehingga kami dapat mengamati dengan jelas bagian-bagian organ pada embrio pada mencit. Awalnya kami merasa kesulitan pada saat pengamatan ini dikarenakan alas yang kami gunakan tissue yang berwarna putih. Sehingga warna embrio tikus dengan warna tissue sangat kontars. Akhirnya kami menggantinya dengan kertas karbon. Setelah diganti maka organ-organ tikus dapat dengan jelas diamatinya.
          Organ yang jelas yaitu bagian mata yang berbentuk bulat telur, telingga belum berbentuk sempurna dan mulut yang masih belum berbentuk. Setelah kami ukur ternyata panjang tubuh pada embrio tikus ini mencapai 1,2 cm lebar 0,5 cm. pada bagian kepala masih terlihat tulang kranium (tulang kepala) belum bersatu.
2)      Awetan Embrio pada Kelinci
          Pengamatan ini tidak menggunakan mikroskop, ini dikarenakan pada embrio kelinci ini dapat lihat dengan mata telanjang. Atau lebih jelas dapat menggunakan kaca pembesar atau lup. Ternyata setelah kami amati lebih mendetail embrio pada kelinci ini telah mengalami kerusakan pada bagian ekor dan bagian organ ektremitas atas atau bagian tangan. Tetapi dari kami salah menafsirkan kalau embrio pada kelinci itu keadaannya masih utuh atau sehat.  
          Setelah diamati dari ciri-ciri, ternyata embrio kelinci ini telah berumur 10 hari dengan panjang kira-kira 5 cm dan lebar 1,5 cm. Bagian tangan pada embrio kelinci ini bentuknya sempurnya dengan ditandai adanya jari-jari 5.
3)      Embrio pada Mencit
          Pada pengamatan embrio ini kami semua mengetahui langsung dengan  jelas bagian atau organ-organ embrio. Karena kami langsung membedah mencit yang sedang bunting tersebut. Setelah dibedah maka organ-organ pada mencit kami buang dan membiarkan fetus-fetus mencit yang menempel pada rahim mencit. Semula kami mengira kalau jumlah fetus mencit etrsebut berjumlah 7, ternyata setelah dichek ulang, maka jumlah fetus mencit tersebut ada 8 ekor
          Pada waktu pembedahan kami sangat hati-hati sekali untuk memotongnya, ini dikarenakan kami takut kalau kami salah memotong jantung. Dimana apabila jantung yang terkena maka darah akan banyak yang mengalir. Fetus mencit yang sudah dibersihkan kami amati dibawah mikroskop, dengan menggunakan alas dari kertas karbon. Dari situlah kami menemukan organ-organ yang kiranya sudah dapat diamati. Antara lain kepala, mata, perut, extremitas anterior, extremitas posterior dan telingga yang bebentuk bulat. Setelah mengamati dari segi morfologi fetus mencit tersebut, maka kami dapat menyimpulkan kalau fetus mencit tersebut masih dalam usia 18-19 hari.
          Sel telur mencit bertipe isolesital, hanya mengandung sedikit yolk, sehingga untuk pertumbuahn embrio selanjutnya telur tidak dikelearkan dari tubuh induk, tetapi seluruh perkembangan embrio terjadi didalam tubuh induk, mulai di dalam ovidak dan dilanjutkan di dalam uterus. Seperti pada perkembangan embrio katak, dan ayam. Perkembangan embrio mencit juga melalui tahapan segmentasi, blastulasi, gastrulasi, neurulasi dan organogenesis (Muctharomah, 2007).
4)      Awetan Embrio pada Sapi
          Pada pengamatan awetan embrio sapi ini pertama kali kami merasa agak tidak enak dengan formalin yang ada pada embrio sapi tersebut. Pada embrio sapi tersebut sudah kelihatan atau nampak organ-organnya, walaupun ada yang masih akan menjadi organ.
          Organ yang benar-benar sudah Nampak yaitu kepala, telingga, mata, ekor kaki depan, kaki belakang, dan plasenta. Pada fetus sapi yang kami amati ini sudah memiliki bakal penis dan bakal testis, dengan ditandai adanya tonjolan pada bagian-bagia tertentu tersebut.embrio sapi ini memiliki panjang 15 mm dan lebar 8 mm. pada paha 3 mm, betis 3,5 dan pada kaki 6,5 mm. setelah melihat dari segi morfologi tersebut maka, kami dapat menyimpulkan bahwa embrio sapi tersebut sudah berumur 2 bulan.