salam

Pages

Kamis, 29 Maret 2012

Antrophyum


Marga Antrophyum
Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Division: Pteridophyta
Class: Pteridopsida
Order: Polypodiales
Family: Polypodiaceae
Genus: Antrophyum
(Tropicos,2009)
Diskripsi Morfologi
            Anthrophyum mempunyai morfologi yang menarik antara lain (Tropicos,2009) :
a.       Akar
Pada akar, bentuknya tertutup rapat berfungsi untuk menyimpan air. akarnya hanya berupa riziod ( cth. Psilotum ) , berbatang kecil dan umumnya berwarna hijau kerana memiliki klorofil sehingga dapat membantu proses fotosintesis
b.      Batang
Pada batang, kulit batang berwarna hijau daun cemara, sebagian ada yang berwarna biru bila dilihat sekilas, batang sampai dengan 3 cm, mempunyai rambut yang panjang berfungsi untuk menebarkan daun serta sebagai penghubung ke dasar tanah. Batang tinggi, sebagian tajam dan runcing, ini berfungsi untuk pertahanan dirinya. Batangnya mempunyai rizom yang halus menjalar dan dilitupi oleh sisik – sisik kecil Sporangiumnya terkumpul dalam sorus yang mengelilingi hampir keseluruhan tepi daun fertil .
c.       Daun
Pada daun, ukuran luas dan memnjang terdapat vena sampai ujung daun. Vena utama tidak terlihat jelas. Daun mengandung banyak air akan tetapi baris spora terjadi dalam jumlah besar, dalam tiga baris garisan daun hanya dua baris yang diatur di sepanjang vena. Deretan spora mungkin tidak berkelanjutan. Akan tetapi dibagi menjadi beberapa cabang. Tampak seperti benang membran Spore sayangnya tidak ada lagi di Sierra tertutup. Membran terhubung panjang.
Sistem Reproduksi
Tumbuhan paku berkembang biak secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dan seksual pada tumbuhan paku terjadi seperti pada lumut. Reproduksi tumbuhan paku menunjukkan adanya pergiliran antara generasi gametofit dan generasi sporofit (metagenesis). Pada tumbuhan paku, generasi sporofit merupakan generasi yang dominan dalam daur hidupnya.  Generasi gametofit dihasilkan oleh reproduksi aseksual dengan spora. Spora dihasilkan oleh pembelahan sel induk spora yang terjadi di dalam sporangium. Sporangium terdapat pada sporofit (sporogonium) yang terletak di daun atau di batang. Spora haploid (n) yang dihasilkan diterbangkan oleh angin dan jika sampai di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi protalus dan selanjutnya menjadi gametofit yang haploid (n) (Jorgensen,1999).
                        Gametofit memiliki dua jenis alat reproduksi, yaitu anteridium dan arkegonium, atau satu jenis alat reproduksi, yaitu anteridium saja atau arkegonium saja. Arkegonium menghasilkan satu ovum yang haploid (n). Anteridium menghasilkan banyak spermatozoid berflagelum yang haploid (n). Spermatozoid bergerak dengan perantara air menuju ovum pada arkegonium. Spermatozoid kemudian membuahi ovum. Pembuahan ovum oleh spermatozoid di arkegonium menghasilkan zigot yang diploid (2n). Zigot membelah dan tumbuh menjadi embrio (2n). Embrio tumbuh menjadi sporofit yang diploid (2n). Metagenesis tumbuhan paku dapat dilihat melalui bagan metagenesis tumbuhan paku. (Jorgensen,1999)
                         Sedang menurut Yatskievych(2002),menyatakan bahwa siklus Pteridophytes pada umumnya ada dua yakni generasi–sporophyte dan gametophyte– dengan tahapan  sporophyte yang lebih lama. Nonvascular menanam seperti lumut dan liverworts juga mempunyai suatu pertukaran generasi,tahap yang dominan dalam tumbuhan ini adalah tahap gametofit. Di dalam benih tertanam gametophyte tidak lagi  bebas tetapi sudah ada dalam jaringan tisu pada sporophyte yang progresif  pengurangan ukuran melalui berbagai penggolongan gymnosperm. seperti yang ada pada tumbuhan berbunga( angiosperms) gametophyte generasi dikurangi menjadi hanya beberapa sel di dalam kecambah butir tepung sari dan ovules.

Contoh Spesies
Adapun contoh-contoh Spesies dari Antrophyum antara lain:
1.      Antrophyum. Callifolium.  Blume.
                     
Nama callifolium dari kata kalus kalus + folium kata keindahan arti dan makna folium daun termasuk sarana daun kecantikan, yang berarti daun pakis spesies ini. Sekilas  warna biru. Warna sebagai warna ekor burung merak terlihat cantik.Jenis pakis adalah pulau yang hidup pakis. Pada batuan. Dalam hubungannya dengan Moskow. Atau pada kulit batang pohon dengan warna hutan cemara dengan kelembaban tinggi (Jorgensen,1999).
gaya Continental ke batang. rimpang belitan pendek daun ke dalam cluster. Pelet mantel serpihan bentuk. Semi-sempit segitiga. Slender menunjuk ukuran ujung, 5: 0.8 mm, coklat tua hampir hitam. Skala tepi tidak rata gigi (Wiggins,1971).
Tangkai daun pendek dilas untuk membentuk visi dan skala. Daun. Daun hijau tua mengkilap. Sekilas dari alga biru biasanya lonjong bentuk tombak. Untuk luas elips untuk menguji secara bertahap akhir menunjukkan dasar daun runcing ukuran 30: 8 cm kulit tebal seperti lembaran. vena Adge terlihat jelas hanya bagian bawah daun.
Vena untuk melihat dengan jelas apa yang tidak jelas apa. Stretch kurva mendekati vena yang sama.Vena untuk melihat dengan jelas apa yang tidak jelas apa. Stretch kurva mendekati vena yang sama. Sayangnya spora garis pengepakan. vena untuk meregangkan berkumpul kurva. Biasanya terjadi di sekitar Pho kembali bermerek daun. Kecuali dekat Parafisa serat pisau inti pusat daun. Ditemukan di seluruh wilayah Thailand. hutan sungai, air terjun. Dengan kelembaban tinggi. Seringkali sepanjang pulau batu.Atau pohon yang berada  di pinggir sungai (Wiggins,1971).
1.     Antrophyum. Obovatum. Bak.
Sinonim:. Antrophyum. Japonicum. Makino.
           
Rimpang pendek pendaki. Daun keluar banyak. Pelet tertutup rapat. Sebagai skala berfokus 07:01 mm, coklat tua hampir hitam. Skala tepi tidak rata gigi. Tangkai daun hingga 8 cm, hijau gelap ke coklat tua. Ditutupi dengan skala di bawahnya.
Daun oval ke max 1 / 5 pada akhir ujung daun dan secara bertahap membentuk uji tipis Ting menunjuk daun sempit untuk batang. Atau baji 15 daun ukuran sempit: tepi cm 6 daun, tetapi tulang rawan sisi-seperti kasar. Daun tebal, seperti kulit lembaran film berwarna hijau sedang, garis halus Daun visi. Vein melengkung terhadap satu sama lain sampai spora sayangnya panjang garis Rnnrong
h vena pada kurva peregangan mendekati Parafisa serat yang sama. gusi Sering orang telah hidup merangkul batang pohon Tebak hutan hujan di sekitar 1500 meter tinggi, sedang pada distribusi. Utara India, Cina, Taiwan dan Asia Tenggara dan mungkin hilang sebagai Jepang. Kami menemukan rumah di Chiang Mai (Iwatsuki,1979).
2.     Antrophyum. Parvulum. Blume. 


Nama Parvulum berasal dari kata yang berarti parvo Merak + ulus berarti kerdil diminitive atau kecil
Kombinasikan artinya. Pakis dan gosok dengan bulu merak kecil berwarna cukup yakin.

Alam rimpang pendek memanjat batang. Loaded dengan akar cluster dan daun. Ditutupi dengan sisik. Semi-sempit, bentuk segitiga. Slender menunjuk ujung. Gray, ganggang coklat. Edge berkumai gigi bukan ukuran regulasi adalah 5: 1 mm
Hijau daun dengan batang sampai dengan 3 cm rambut panjang menaburkan daun terhubung ke dasar visi ke daun oval panjang 2 cm sampai 10 cm lebar max pusat. Ting menunjuk batang daun tajam dan runcing untuk menguji secara bertahap. poros adalah sirip dan punggung sempit. Daun yang tebal, halaman mengkilap seperti film. Hijau menjadi hijau pucat. Vena jelas hanya dilihat sebagai bagian daun yang lebih rendah.Vein sebagai kasa Vena kecil, tapi sayangnya tidak ada garis spora pengepakan. 
Rnnrong h vena atau dibawah garis dengan Parafisa (Tropicos,2009).
Sering ditemukan hidup di pulau dengan Moskow pada pohon atau bebatuan di Hutan hujan sepanjang tahun. bentuk rumah kami telah dilaporkan di Chiang Mai, Lamphun, Loei, Trang Yala
Jenis budaya tumbuh pakis untuk kecantikan sulit. Karena warna pakis dan kelembaban yang tinggi sepanjang waktu.
3.     Antrophym. Winitii. Tagawa dan  K.Iwats.
Dinamakan untuk menghormati pangeran yang mengawasi Dr Annan hanya satu contoh. Thailand dating pada nilai kayu di 520 m. Chiang Rai
Karakteristik Isolasi set atau jatuh ujung pendek. Daun ke dalam cluster. skala Rimpang yang erat tertutup. bentuk panjang ramping pelet. -Seperti sisik Feather tip ukuran 2-3: 0,3 mm tepi bergerigi skala sebagai strip daun ukuran gigi cm, lebar 2 mm. 3 . pertengahan-max tes secara bertahap dipersempit ke bawah. tidak jelas atau menunjuk ujung Tangkai daun adalah menunjuk sampai akhir lantai dua seperti gigi berujung tajam. Segitiga cekung 0,5 mm kedalaman tekstur radial Kulit halus seperti film lembar Daun garis tengah tidak jelas. Vein sebagai kasa Ruang antara kain kasa. Spore sayangnya deretan panjang di tepi daun pada kedua sisi. Masukkan sejumlah besar baris. Melihat merah jaringan perdagangan gelap pita (Tropicos,2009).
4.    Antrophyum. Stenophyllum. Baker.

Rimpang pendek-batang pendaki. Daun keluar banyak. Padat ditutupi dengan sisik. Timbangan bentuk lonjong penipuan poros Slender menunjuk ujung. Sebuah gigi tepi bergelombang, 2,5: 0,8 mm,      coklat gelap, lebih atau kurang clarthrate dengan gelap-dinding sel. Tangkai daun visi. Kembali oval Daun daun terbesar ketiga dari ujung bertahap menunjuk ke ujung kartu tes. Tapi tidak proyeksi ekor. Periksa dasar daun lonjong dengan ukuran daun 6,5 cm Lebar 7 cm dan visi urat pembuluh darah baik di atas dan di bawah spora adalah
Rnnrong h sayangnya tertangkap disenangi di daun permukaan bawah Mungkin ada beberapa bantuan di Parafisa serat permukaan atas pita seperti fleksibel Coklat sampai coklat gelap. Hanya ditemukan di Chiang Mai (Zang,2003).
Manfaat
Sesetengah petani terutamanya di Melaka mempercayai air tumbukan daripada paku- pakis ini apabila dicampurkan dengan buah kundur dapat membunuh dan mengusir pianggang iaitu sejenis serangga yang merosakkan padi yang baru mula berbuah (Lawesson,1987).



DAFTAR PUSTAKA

Iwatsuki k. dan M. tagawa.1979.flora of Thailand volume 3 part 2.bangkok:supita        
techathada
Jørgensen, P.M., León-Yánez, S. (eds.) (1999) Catalogue of the Vascular Plants of Ecuador.
Monographs in Systematic Botany from the Missouri Botanical Garden 75 Missouri Botanical Garden Press, St. Louis, 1181 pp.

Lawesson, J.E., Adsersen, H. & Bentley, P. (1987) An updated and annotated check list of the
vascular plants of the Galapagos islands. Rep. 16, Botanical Inst., Univ. of Aarhus, Risskov, Denmark.

Tropicos.org. (2009) Database of Missouri Botanical Garden. Missouri Botanical Garden,

Wiggins, I.L., Porter, D.M. (1971) Flora of the Galapagos Islands. Stanford University Press,
Stanford, 998 pp.

Zhang chun,xian.2003.New combinations haplopteris(pteridophyta:vittariacea).ann.bot. fennici 40:459-461

Selasa, 27 Maret 2012

LAPORAN PRAKTIKUM SPT (AKAR)


BAB I

PENDAHULUAN


1.1.  Latar belakang
Bagian bawah dari sumbu tumbuhan dan umumnya berkembang dibawah permukaan tanah, meskipun adapula adapula akar yang tumbuh dibawah tanah. Akar yang berkemang pertama adalah meristem apeks diujung embrio biji yang berkecambah. Akar pada ermbrio dinamakan radikula ( Evika, 2005).
Akar mempunyai bentuk dan struktur yang beragam. Keragaman ini sering terkait dengan fungsinya, yaitu apakah sebagai akar penyimpan cadangan, akar sukuler, akar udara, akar napas (pneumatofor), akar rambut, akar penompang, atau akar yang mengandung cendawan simbiotik (mikorida)    (Fahn, 1991). 
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang akar ini, kita melakukan praktikum dan pengamatan tentang akar. Kita berharap semoga dengan adanya praktikum ini kita mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang akar.
Rumusan masalah
  1. Bagaimanakah macam jaringan penyusun akar primer dan sekunder?
  2. Apakah perbedaan antara akar tumbuhan dikotil dan monokotil?
  3. Apasajakah tipe-tipe stele pada akar?
1.3 Tujuan
  1. Untuk mengetahui macam jaringan pentyusun akar primer dan sekunder.
  2. Untuk mengetahui perbedaan antara akar tumbuhan dikotil dan monokotil.
  3. Untuk mengetahui tipe-tipe stele poada akar.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Akar
Akar merupakan bagian bawah dari sumbu tumbuhan dan umumnya berkembang di bawah permukaan tanah, meskipun ada pula akar yang tumbuh di luar tanah. Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks di ujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Pada gymnospermae dan dikotil, akar tersebut berkembang dan membesar menjadi akar primer dengan cabang yang berukuran lebih kecil. System akar tersebut dinamakan akar tunggang. Pada monokotil, akar primer tidak lama bertahan dalam kehidupan tumbuhan dan segera mengering. Dari dekat pangkalnya atau di dekatnya akan muncul akar baru yang disebut akar tambahan atau adventif (Savitri 2008).
Berdasarkan asalnya dikenal dua macam akar, yaitu : akar primer yang berasal dari embrio dan akan tetap bertahan sepanjang hidupnya, serta akar liar yang berasal dari batang atau daun. Akar tersebut dapat bersifat permanen dan sementara. Peranan akar adalah untuk menyerap air dan garam-garam dari dalam tanah serta menambatkan tumbuhan pada tanah atau makanan seperti Daucus, Manihot, Dioscorea, dan Ipomoea. Peranan akar liar bervariasi, sesuai dengan peranan akarnya. Akar liar dapat berfungsi sebagai akar tunjang, akar gantung, akar nifas, akar pelekat, akar pembelit, dan sebagai penunjang (Issrep, 1993).
Akar juga merupakan bagian pokok yang nomor tiga (di samping batang dan daun) bagi tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus. Bagi tumbuhan, akar berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah, untuk mengangkut air dan zat-zat makana tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan dan kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan    (Estiti,1985)
Irisan memanjang ujung akar muda menunjukkan 4 daerah pertumbuhan yang batasnya tidak terlalu jelas. Yaitu : tudung akar, daerah pembelahan sel, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi sel. Daerah-daerah pertumbuhan ini dapat berhimpitan karena dipengaruhi oleh jenis tumbuhnya serta keadaan lingkungan yang menentukan aktifitasnya (sutrian,2004).
 Bagian bawah dari sumbu tumbuhan sering dikenal dengan sebutan akar dan umumnya berkembang di bawah permukaan tanah, meskipun ada akar yang tumbuh di luar tanah. Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks di ujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Pada gymnospermae dan dikotil, akar tersebut berkembang dan membesar menjadi akar primer dengan cabang yang berukuran lebih kecil. System akar tersebut dinamakan akar tunggang. Pada monokotil, akar primer tidak lama bertahan dalam kehidupan tumbuhan dan segera mengering. Dari dekat pangkalnya atau di dekatnya akan muncul akar baru yang disebut akar tambahan atau adventif (estiti, 1995).
Irisan memanjang ujung akar muda menunjukkan 4 daerah pertumbuhan yang batasnya tidak terlalu jelas. Yaitu : tudung akar, daerah pembelahan sel, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi sel. Daerah-daerah pertumbuhan ini dapat berhimpitan karena dipengaruhi oleh jenis tumbuhnya serta keadaan lingkungan yang menentukan aktifitasnya (sutrian,2004).
Akar juga merupakan bagian pokok yang nomor tiga (di samping batang dan daun) bagi tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus. Bagi tumbuhan, akar berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah, untuk mengangkut air dan zat-zat makana tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan dan kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan    (Estiti,1985)
2.2 Macam-Macam Akar
Keragaman bentuk dan struktur akar sering terkait dengan fungsinya. Karena itu dikenal akar penyimpan, akar sukulen, akar udara, pneumatofur, akar panjat, akar pembelit, akar tunjang, dan akar yang hidup bersimbiosis dengang jamur. Kondisi lingkungan sering mempengaruhi sistem akar. Ditanah kering tumbuhan biasanya memiliki sistem akar yang berkembang dengan lebih baik. Banyak tumbuhan yang tumbuh ditanah berpasir menghasilkan akar lateral yang horizontal dan tidak dalam, menyebar dekat dibawah permukaan tanah hingga berpuluh meter panjangnya minsalnya pada tamarix (estiti, 1995).
2.3 Susunan Jaringan Akar Primer
a. Tudung Akar
Tudung akar terdapat diujung akar dan melindungi promeristem akar serta membantu penembusan tanah oleh akar, yang terdiri dari sel hidup yang saling mengandung pati, terkadang selnya tersusun dalam deretan radial yang berasal dari pemula tudung akar, pada kebanyakan tumbuhan sel sentral ditudung akar membentuk struktur yang lebih jelas dan disebut kolumela (sutrian,2004).
b. Epidermis
Lapisan terluar akar tersusun dari sel-sel yang rapat satu sama lain tanpa antar sel, berdinding tipis. Namun kadang-kadang dinding sel paling luar berkutikula. Pada akar yang terendah pada udara dan bagian akar dalam tanah yang mempertahankan epidermisnya, dinding luar menebal, dapat berisi lignin dan zat lain. Tebal epidermis biasanya satu lapisan sel, tetapi terdapat perkecualian misalnya akar udara tumbuhan anggota Orchidaceae dan Araceae yang bersifat epifit, epidermisnya berlapis banyak dan terspesialisasi membentuk jaringan khusus disebut velamen (fahn,1991).
c. Korteks Akar
Pada umumnya korteks akar terdiri dari sel-sel parenkim. Sel-sel korteks akar sering mengandung tepung, kadang-kadang kristal kalsium oksalat. Pada sejumlah besar monokotil sering membentuk serabut sklerenkim dan berbagai sel yang berdinding tebal sebagai penguat.
Lapisan terluar korteks yang langsung berbatasan dengan epidermis, dapat mengadakan differensiasi menjadi hipodermis yang dinding-dindingnya mengandung mengandung suberin atau lignin yang disebut eksodermis. Eksodermis dapat terdiri dari selapis sel atau lebih, terdiri dari sel panjang dan sel pendek bergantian atau hanya semacam saja. Sedangakan lapisan paling dalam korteks akar berkembang dan berdifferensiasi menjadi endodermis. Endodermis merupakan selapis sel dan struktur anatominya berbeda dengan jaringan di sebelah luar maupun di sebelah dalamnya. Sel endodermis selain mengalami penebalan dinding yang tersusun dari selulose dan lignin. Pada awal perkembangannya, sel-sel endodermis membentuk pita Caspary, yaitu penebalan dari suberin dan lignin pada sisi radial dan tranversal. Ada tiga tipe endodermis, yaitu :1. tipe pertama, selnya berdinding tipis yang ada pada dinding radial dan tranversialnya mengalami penebalan pita dari zat gabus. 2. tipe kedua, disampng dinding primer, dinding juga dilapisi dengan gabus dan selulose. 3. tipe ketiga, penebalan dindingnya yang berlignin. Pada tipe ketiga, penebalan dinding dapat terjadi pada dinding radial, tranversal, dan tangensial bagian dalam atau luar (Savitri 2008). 
Rambut akar berkembang dari sel epidermis yang khusus, dan sel tersebut mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel peidermis, dinamakan trikoblas. Rambut akar merupakan sel epidermis yang memanjang ke luar, tegak lurus permukaan akar, dan membentuk tabung. Selnya biasa terdapat dekat di belakang apeks akar sepanjang satu sampai beberapa sentimeter (sumardi, 1993). 
c. Eksodermis
Pada kebanyakan tumbuhan dinding sel pada lapisan sel terluar membentuk gabus sehingga terbentuk jaringan pelindung baru yakni eksodermis yang akan menggantikan epidermis, struktur dan sifat sitokimiawi sel eksodermis mirip sel endodermis, dinding primer dilapisi oleh suberin yang juga dilapisi oleh selulosa, ditemukan juga lignin, contoh tanaman yang memiliki eksodermis adalah smilax, oryza, phoenix ( Istanti,1999).
d. Endodermis
untuk penyerapan pada daerah akar dinding sel mengandung selapis suberin didinding antiklinal yakni pada dinding radial dan melintang, kerampingan lapisan ini menyebabkan disebut pita kaspari, yang merupakan kesatuan antara lamella tengah dan dinding primer tempat suberin dan lignin tersimpan. Bila sel terplasmolisis maka protoplas melepaskan diri dari dinding namun tetap melekat pada pita kaspari (fahn,1991).
e. Silinder Pembuluh
Silinder pembuluah terdiri dari jaringan pembuluh dengan satu atau beberapa lapisan sel disebelah luarnya yaitu perisikel. Sel trakeal terluar paling pendek garis tengahnya namun paling dulu menjadi dewasa, sel-sel itu merupakan protoxilem dan memiliki dinding skunder berpenebalan spiral atau cincin (sumardi, 1993). 
2.3  Pertumbuhan Sekunder pada Akar
Dalam akar yang mempunyai penebalan sekunder, kambiumnya berasal dari benang-benang meristem dalam jaringan prokambium atau jaringan parenkimatis yang terletak di antara kelompok-kelompok floem priem dan pusat stele. Disini dibentuk deretan tangensial pendek initial kambium yang akan membentuk sel-sel xilem sekunder dan floem sekunder.  Dari batas-batas strip kambium yang terbentuk pertama ini, satu lapisan initial diperluas ke arah lateral dengan diferensiasi initial baru dalam parenkima di antara benang-benang xilem dan floem primer sampai segmen kambium bertemu dalam perisikel di antara xilem dan endodermis. Sehingga terbentuklah silinder kambium yang utuh sebagaimana gambar di bawah ini :


 

            Kambium pada permukaan dalam floem aktif terlebih dahulu dibandingkan dengankan dengan kambium di dekat perisikel membentuk xilem sekunder yaitu kambium terdorong ke luar. Kambium dari pesikel membentuk parenkim jari-jari empulur. Periderm terbentuk dari sel-sel perisikel yang membelah secara periklinal dan antiklinal. Pembelahan periklinal membentuk perluasan radial dari perisikel  (Issrep, 1993).
Pembentukan periderm mengikuti aktivitas kambium pembuluh dan biasanya mulai dibentuk pertama kali dalam perisikel.. Pada tumbuhan parenial, keaktifan kambium akar akan diiringi keaktifan periderm untuk jangka waktu lama. Periderm yang telah di bentuk tidak akan bertahan lama karena volume dari sel baru yang ada di sebelah dalam bertambah besar, dan akhirnya periderm baru dibentuk di bawahnya. Hal itu dapat berlangsung berulang kali sehingga diperoleh ritidom. Pada akar yang bertugas menyimpan cadangan makanan , parenkim menjadi bagian terbesar pada xilem maupun floem sekunder (Hidayat, 1995).







BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II ini dilaksanakan pada hari senin tanggal  02 Juni 2008 diLaboratorium Biologi Fakultas Sains dan Tekhnologi Universitas Islam Negeri Malang
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.    Mikroskop cahaya                     1 buah
2.    Silet                                           1 buahi
3.    Cutter                                        1 buah
4.    Pipet Tetes                                 1 buah
5.    Gelas Benda dan Penutup         1 buah
6.    Kain lap                                     1 buah
3.2.2 Bahan
1.    Akar Ubi Jalar (Ipomea batatas)
2.    Akar Jagung (Zea mays)
3.    Akar Padi (Oryza sativa)
4.    Akar Kacang (Arachis hypogae)
3.4 Cara Kerja
  1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum.
  2. Mengambil bahan yang akan dibuat preparat.
  3. Memotong Akar jagung secara melintang , kemudsian diamati dengan mnenggunakan mikroskop . setelah itu amati bagian kortek dan menunjukkan bagian yang bersifat parenkimatis dan sklerenkimatis. Bagian jaringan pengangkut, dan juga pada juga bagian endodermis. Amati juga tipe berkas pengangkutnya dan juga tipe stele. Setelah itu gambar pada kertas.
  4. Memotong Akar kacang tanah secara melintang , kemudsian diamati dengan mnenggunakan mikroskop . setelah itu amati bagian kortek dan menunjukkan bagian yang bersifat parenkimatis dan sklerenkimatis. Bagian jaringan pengangkut, dan juga pada juga bagian endodermis. Amati juga tipe berkas pengangkutnya dan juga tipe stele. Setelah itu gambar pada kertas.
  5. Memotong Akar umbi jalar secara melintang , kemudsian diamati dengan mnenggunakan mikroskop . setelah itu amati bagian kortek dan menunjukkan bagian yang bersifat parenkimatis dan sklerenkimatis. Bagian jaringan pengangkut, dan juga pada juga bagian endodermis. Amati juga tipe berkas pengangkutnya dan juga tipe stele. Setelah itu gambar pada kertas.
  6. Memotong Akar padi secara melintang , kemudian diamati dengan mnenggunakan mikroskop . setelah itu amati bagian kortek dan menunjukkan bagian yang bersifat parenkimatis dan sklerenkimatis. Bagian jaringan pengangkut, dan juga pada juga bagian endodermis. Amati juga tipe berkas pengangkutnya dan juga tipe stele. Setelah itu gambar pada kertas.











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Hasil praktikum
Literatur
Perbesaran 10x10







Akar Ubi Jalar (Ipomea batatas)




 








Hasil praktikum
Literatur
Perbesaran 10x10









Akar Jagung (Zea mays)









Hasil praktikum
Literatur
Perbesaran 10x10







Akar Padi (Oryza sativa)










Hasil praktikum
Literatur
Perbesaran 10x10








Akar Kacang (Arachis hypogae)








4.2 Pembahasan
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menegtahui jaringan penyusun akar dan juga mengaetahui tipe stele pada tumbuhan yang digunakan sebagai sample pengamatan Langkah yang dilakukan adalah Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan kemudian dibuat preparat dengan Memotong Akar jagung secara melintang , kemudian diamati dengan menggunakan mikroskop . Setelah itu amati bagian kortek dan menunjukkan bagian yang bersifat parenkimatis dan sklerenkimatis. Bagian jaringan pengangkut, dan juga pada juga bagian endodermis. Amati juga tipe berkas pengangkutnya dan juga tipe stele. Pada akar kacang tanah amati bagian kortek dan menunjukkan bagian yang bersifat parenkimatis dan sklerenkimatis. Bagian jaringan pengangkut, dan juga pada juga bagian endodermis. Amati juga tipe berkas pengangkutnya dan juga tipe stele selanjutnya dilanjutkan dengan  bahan yang lain dengan pengamatan yang sama..
4.2.1 Akar ubi jalar (Ipomea batatas).                                        
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan  pada bagian palig tepi terdapat garis yang melingkar yaitu epidermis sedangkan agak dalamnya terdapat garis yang melingkar yaitu ektodermis. Pada bagian tengah terdapat protoxilem yang letaknya agak diluar sedangkan yang didalam adalah metaxilem. Daerah antara ektodermis dan jaringan angkut terdapat perisikel. Sedangkan floem terdapat dekat dengan xilem. Jumlah xilem yang terdapat pada akar kacang tanah ini adalah banyak dan lebih dari 4 sehingga pada akar kacang tanah ini tipenya adalah poliark.
             Semua berkas xilem dan floem tersusun dalam lingkaran. Bila jumlah berkas tidak banyak, maka xilem sering bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Sesuai dengan jumlah berkas xilem di tepi, maka akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas xilem, disebut triark jika jumlahnya tiga berkas, dan bila jumlahnya empat atau seterusnya disebut tetrark. Sedangkan apabila lebih dari 4 disebut poliark (Evika, 2005).
4.2.2 Akar jagung ( Zea mays)
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan ditemukan bahwa pada akar jagung tampak bagian epidermis yang terletak pada bagian yang paling luar yang berupa garis melingkar yang tebal yang berwarna hijau tua pekat. Sedangakan ektodermis berupa garis tipis yang warnanya sedikit muda dibandingkan dengan epidermis. Kortek terletak pada bagian tengan dan berwarna bening. Jaringan angkutnya terletak pada bagian tengah, dan jaringan  floem berada diluar, berwarna bening sedangkan xilem berwarna hijau tua berada lebih dalam. Jumlah xilem yang terdapat pada akar jagung adalah lebih dari 4 buah sehingga tipe dari akar jagung adala poliark.
Bila jumlah berkas tidak banyak, maka xilem sering bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Sesuai dengan jumlah berkas xilem di tepi, maka akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas xilem, disebut triark jika jumlahnya tiga berkas, dan bila jumlahnya empat atau seterusnya disebut tetrark. Sedangkan apabila lebih dari 4 disebut poliark (Evika, 2005).
4.2.3. (Padi (Oryza sativa)
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan pada akar padi tampak bagian epidermis yang terletak pada bagian yang paling luar yang berupa garis melingkar yang tebal yang berwarna hijau tua pekat. Sedangakan ektodermis merupakan garis tipis yang warnanya sedikit muda dibandingkan dengan epidermis. Kortek terletak pada bagian tengan dan berwarna bening. Jaringan angkutnya terletak pada bagian tengah , floem berada diluar, berwarna bening sedangkan xilem berwarna hijau tua berada lebih dalam. Jumlah xilem yang terdapat pada akar padi adalah banyak lebih dari 4 buah sehingga tipe dari akar padi adalah poliark.
             Bila jumlah berkas tidak banyak, maka xilem sering bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Sesuai dengan jumlah berkas xilem di tepi, maka akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas xilem, disebut triark jika jumlahnya tiga berkas, dan bila jumlahnya empat atau seterusnya disebut tetrark. Sedangkan apabila lebih dari 4 disebut poliark (Evika, 2005).
4.2.4 Akar kacang tanah (Arachis hypogea)
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan pada akar kacang tanah ditemukan pada bagian luar adalah epidermis sedangkan pada bagian lebih dalam terdapat ektodermis. Jaringam pengangkut yaitu floem dan xilem terdapat pada bagian tengah. Sebelum jariangan angkut terdapat korteks. Pada xilemnya terdapat 2 jenis yaitu rotoxilem dan juga metaxilem.  Xilem yang terlihat pada pengamatan terdapat 4 buah sehingga dikenal dengan tipe tetrark karena xilemnya ada 4 buah.
Silinder pembuluh terdiri dari jaringan pembuluh dengan satu dan beberapa lapisan sel di sebelah luarnya yaitu perisikel. Perisikel merupakan lapisan yang terbentuk dari prokambium dan berfungsi sebagai pembatas antara silinder pusat dengan bagian korteks. Umunya tersusun atas satu lapisan sel dan turut terlibat dalam pembentukan akar lateral dan felogen (kambium gabus)  (Isrep,1993).
            

BAB IV

PENUTUIP


5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dialakukan dapat simpulkan bahwa :
  1. Jaringan yang menyusun akar antara lain epidermis, ektodermis, foloem, xilem, korteks, dan perisikel.
  2. Pada Akar jagung ( Zea mays) tipenya adalah poliark karena terdapat banyak xilem.
  3. Pada akar kacang tanah (Arachis hypogea) tipenya adalah tetrark karena  xilem jumlahnya adalah 4 buah.
  4. Pada Akar Ubi jalar (Ipomea batatas) tipenya adalah poliark karena terdapat banyak xilem.
  5. Pada Akar padi (Oryza sativa) tipenya adalah poliark karena terdapat banyak xilem.





DAFTAR PUSTAKA



Anonim.2008.Sel. Http://id.Wikipedia.org./wiki/akar.org. diakses pada tanggal 20  juni 2008 pukul : 15.00 WIB
Evika, sandi savitri,2005. taksonomi tumbuhan tinggi. Malang: UIN Press
Fahn, 1991. Anatomi Tumbuhan. Jogjakarta.: UGM Press
Hidayat, Estiti B.1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB
Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Jogjakarta : UGM
Sutrian, yayan. 1992. Pengantar anatomi tumbuhan tentang sel dan jarin













HUTAN


Hutan mempunyai jasa yang sangat besar bagi kelangsungan makhluk hidup terutama manusia. Salah satu jasa hutan adalah mengambil karbon dioksida dari udara dan menggantimya dengan oksigen yang diperlukan makhluk lain. Maka hutan disebut paru-paru dunia. Jadi, jika terlalu banyak hutan yang rusak, tidak akan ada cukup oksigen untuk pernapasan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan, yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan

A. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Iklim :
  1. Hutan Hujan Tropika, adalah hutan yang terdapat didaerah tropis dengan curah hujan sangat tinggi. Hutan jenis ini sangat kaya akan flora dan fauna. Di kawasan ini keanekaragaman tumbuh-tumbuhan sangat tinggi. Luas hutan hujan tropika di Indonesia lebih kurang 66 juta hektar Hutan hujan tropika berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan hujan tropika terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
  2. Hutan Monsun, disebut juga hutan musim. Hutan monsun tumbuh didaerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Pada musim kemarau, tumbuhan di hutan monsun biasanya menggugurkan daunnya. Hutan monsun biasanya mempunyai tumbuhan sejenis, misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.




B. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Variasi Iklim, Jenis Tanah, dan Bentang Alam :
  1. Kelompok Hutan Tropika :
    • a. Hutan Hujan Pegunungan Tinggi
    • b. Hutan Hujan Pegunungan Rendah
    • c. Hutan Tropika Dataran Rendah
    • d. Hutan Subalpin
    • e. Hutan Pantai
    • f. Hutan Mangrove
    • g. Hutan Rawa
    • h. Hutan Kerangas
    • i. Hutan Batu Kapur
    • j. Hutan pada batu Ultra Basik
  2. Kelompok Hutan Monsun
    • a. Hutan Monsun Gugur Daun
    • b. Hutan Monsun yang Selalu Hijau (Evergren)
    • c. Sabana

C. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Terbentuknya :
  1. Hutan alam, yaitu suatu lapangan yang bertumbuhan pohon-pohon alami yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya. Hutan alam juga disebut hutan primer, yaitu hutan yang terbentuk tanpa campur tangan manusia.
  2. Hutan buatan disebut hutan tanaman, yaitu hutan yang terbentuk karena campur tangan manusia.

D. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Statusnya :
  1. Hutan negara, yaitu hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah.
  2. Hutan hak, yaitu hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Hak atas tanah, misalnya hak milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), dan hak guna bangunan (HGB).
  3. Hutan adat, yaitu hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.

E. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Jenis Tanamannya :
  1. Hutan Homogen (Sejenis), yaitu hutan yang arealnya lebih dari 75 % ditutupi oleh satu jenis tumbuh-tumbuhan. Misalnya: hutan jati, hutan bambu, dan hutan pinus.
  2. Hutan Heterogen (Campuran), yaitu hutan yang terdiri atas bermacam-macam jenis tumbuhan.

F. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Fungsinya :
  1. Hutan Lindung
    Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan.
  2. Hutan Konservasi.
    Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri atas :
    • a. Hutan Suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistemnya serta berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan. Kawasan hutan suaka alam terdiri atas cagar alam, suaka margasatwa dan Taman Buru.
    • b. Kawasan Hutan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri atas taman nasional, taman hutan raya (TAHURA) dan taman wisata alam.
  3. Hutan Produksi
    Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya serta pembangunan, industri, dan ekspor pada khususnya. Hutan produksi dibagi menjadi tiga, yaitu hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi tetap (HP), dan hutan produksi yang dapat dikonversikan (HPK)